Jumat, 19 Oktober 2012

BERDIALOG DENGAN AL-QUR’AN

Metode-metode Memahami Al-Qur’an
§      Metode Klasik
Kebanyakan kajian sejarah perkembangan pemikiran Islam, berjalan secara dikotomis dan parsial. Hal ini terlihat pada pendidikan dalam spesialisasi fiqih yang hanya terbatas pada masalah-masalah fiqih ibadah saja, yang akhirnya terlibat dalam membentuk pola pikir yang dikotomis dan hanya sedikit memberikan wawasan yang berarti.
Di sini terdapat pula kajian yang lain, seperti kajian teologis yang dapat dikatakan kajian yang cukup radikal dan menyentuh masalah-masalah hukum. Namun kajian ini hanya sebatas pada penyimpulan, komentar, meringkas, mengutip, dan seterusnya, yang sama saja seperti air yang berputar pada satu tempat yang sama.
Ada juga metode yang disebut dengan metode sufistik yang mengkaji masalah-masalah di seputar ketenangan jiwa, ketenangan hati, dan kadang juga membahas masalah akhlak dan perilaku psikologis serta hubungan dengan Allah swt. Dan metode filosofis dengan tokohnya yang terkenal seperti Al-Ghazali dan Ibn Rusyid. Mereka merupakan filosof ternama dan sama-sama memberikan argumen dan visi terhadap pemikiran Islam pada zamannya, yang memang pada waktu itu begitu besar perannya dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam.
Beberapa metode yang disebutkan tadi adalah sebuah tradisi keilmuan yang hampir lenyap. Maka untuk mengembalikan kebudayaan Islam, kita harus mengkaji metode-metode tersebut serta berusaha untuk merekonstruksinya menuju tradisi keilmuan yang berwawasan dan berdasar pada Al-Quran dan Ash-Shunnah. Dan kita juga harus menemukan kembali sistem pendidikan yang telah hilang, seperti sistem pendidikan yang pernah diterapkan oleh Ibn Al-Haitsam, Jabbir bin Hayyan, dan Al-Khawarismi, yang berpandangan paralel antara fenomena-fenomena alam dengan pernyataan-pernyataan yang ada dalam Al-Quran.
§      Metode Modern
Ada beberapa kajian di sini, diantaranya pendekatan atsariyyin atau biasa disebut dengan tafsir bil-ma’tsur, yang terdapat pada kitab tafsir Ibnu Katsir. Metode ini pernah digunakan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, namun metode ini pernah mendapat kritik karena ayat-ayat dalam kajian tersebut banyak dikaitkan dengan hadis-hadis dhaif, sehingga apa yang diharapkan dari sebuah tafsir Al-Quran dengan pemikiran Qurani, tampaknya belum begitu terlihat.
Ada juga tafsir yang mengambil spesialisasi fiqhiyah yang membahas ayat-ayat hukum untuk menyimpulkan metode-metode pengambilan hukum.  Dan ada pula tafsir yang bercorak dialogis, seperti yang pernah dilakukan oleh Ar-Razi dalam tafsirnya At-Tafsir Al-Kabir. Tafsir ini menyajikan tema-tema menarik, namun sebagian dari tema tersebut sudah keluar dari batasan tafsir itu sendiri, yang menjadi acuan kebanyakan penafsir Al-Quran.
§      Pandangan Universal Al-Quran
Pada firman Allah swt :
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Y9$# (#rßç6ôã$# ãNä3­/u Ï%©!$# öNä3s)n=s{ tûïÏ%©!$#ur `ÏB öNä3Î=ö6s% öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇËÊÈ  
21. “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” Qs. Al-baqarah : 21

Inilah ayat tauhid. Dan kepada Allah-lah segala urusan manusia dikembalikan. Ayat tersebut tidak hanya berhenti sampai di situ, melainkan dilanjutkan dengan firman-Nya :
Ï%©!$# Ÿ@yèy_ ãNä3s9 uÚöF{$# $V©ºtÏù uä!$yJ¡¡9$#ur [ä!$oYÎ/ tAtRr&ur z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ylt÷zr'sù ¾ÏmÎ
 z`ÏB ÏNºtyJ¨V9$# $]%øÍ öNä3©9 ( Ÿxsù (#qè=yèøgrB ¬! #YŠ#yRr& öNçFRr&ur šcqßJn=÷ès? ÇËËÈ  
22. “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu mengetahui.” Qs. Al-baqarah : 22

Perhatikan bagaimana metode Al-Quran dalam membentangkan rahasia-rahasia alam dan pada saat yang sama juga melarang kemusyrikan dan meletakkan dasar-dasar akidah tauhid. Ayat-ayat tersebut diturunkan di kota Madinah, adapun dengan ayat-ayat yang diturunkan di kota Makkah, kita dapati metode yang sama, seperti :
ª!$# Ï%©!$# Ÿ@yèy_ ãNä3s9 Ÿ@øŠ©9$# (#qãZä3ó¡oKÏ9 ÏmÏù u$yg¨Y9$#ur #·ÅÁö6ãB 4 žcÎ) ©!$# rä%s! @@ôÒsù n?tã Ĩ$¨Z9$# £`Å3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Y9$# Ÿw šcrãä3ô±o ÇÏÊÈ   ãNà6Ï9ºsŒ ª!$# öNä3š/u ß,Î=»yz Èe@à2 &äóÓx« Hw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( 4¯Tr'sù tbqä3sù÷sè? ÇÏËÈ   šÏ9ºxx. à7sù÷sムšúïÏ%©!$# (#qçR%x. ÏM»tƒ$t«Î/ «!$# tbrßysøgs ÇÏÌÈ  
61. “Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.”
62. “yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia; Maka Bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?”
63. “seperti Demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah.”  Qs. Al-Mu’min : 61-63

Dari sini dapat dipahami bahwa pernyataan-pernyataan Al-Quran al-Karim ialah tidak dikotomis dan parsial, tetapi universal. Dari satu ayat dapat kita kaitkan dengan masalah-masalah alam, balasan, jiwa manusia, keimanan, dan akhlak secara sistematik.

§      Bagaimana Memahami Al-Quran ?
1.      Meluruskan Metode dan Sarana
Al- Quran adalah penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Apa maksudnya Al-Quran sebagai penyembuh bagi orang-orang yang beriman?
Ada orang yang membaca kitab Al-Bukhari agar mendapat berkah dan kemenangan menjelang pertempuran. Salah seorang rekannya berkomentar, ketika melihat tingkah laku orang tersebut, “Perlu diketahui hai kawan, bahwa musuh itu menyerang kita dengan menggunakan kapal laut (al-bukhar) bukan dengan kitab Al-Bukhari. Membaca kitab Al-Bukhari tanpa usaha memahami hadis-hadis Nabi yang menjelaskan makna Al-Quran dan tanpa adanya usaha berdialog dengan sunatullah, tentu tidak menjadikan sebuah kapal berlayar, dan membacanya tanpa diimbangi usaha keras, tidak akan berarti sedikitpun.”
2.      Mengidentifikasi Kekeliruan
Pada firman Allah swt : “ Allah-lah yang menundukan lautan untukmu” Qs. Al-Jatsiyah : 18
Sebagian orang yang membaca ayat tersebut hanya berpikiran bahwa Allah swt menghadirkan lautan untuk kita manfaatkan isinya, namun tidak berpikir bagaimana menciptakan alat yang dapat digunakan untuk mengarunginya. Hal ini yang membuat sebagian umat Islam tertinggal dalam kemajuan teknologi.
3.      Mengatasi Keterbelakangan Umat
Tentang besi umpamanya, pada ayat tersebut Allah swt hendak menginformasikan kepada umat Islam bahwa Allah akan memberikan kemenangan. Namun yang dimaksud ialah apabila kita telah dapat membudidayakan besi menjadi berbagai barang yang bermanfaat, seperti zaman sekarang ini bahwa besi dapat diolah menjadi tank, artileri, senjata modern lainnya, dan berbagai barang modern lainnya yang dapat menunjang kemajuan pengetahuan manusia. Tetapi barang-barang seperti itu justru lebih banyak dihasilkan oleh golongan orang di luar Islam, yang disebabkan buruknya pemahaman umat Islam terhadap kandungan Al-Quran.
4.      Mengambil Hikmah Kisah-Kisah Al-Quran
Seperti pada sepenggalan firman Allah swt : “Maka ambilah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” Qs. Al-Hasyr : 2
Ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan kisah kaum Bani Nadhir. Al-Quran sendiri jelas-jelas memerintahkan manusia untuk berjalan di muka bumi ini dengan membuka mata lebar-lebar, agar dapat meluruskan kekeliruan pemikiran umat terdahulu.

§      Mukjizat Keilmuan dalam Al-Quran
Al-Quran adalah mukjizat yang kekal dan sampai saat ini tidak seorangpun mampu menciptakan hal serupa.
Contoh keilmuannya, yaitu mengenai tahapan penciptaan, proses pertumbuhan janin, dan sebagainya, yang diungkapkan dalam Al-Quran dan kemudian dibuktikan oleh ilmu kedokteran, tercantum pada Qs. Al-Mu’minun : 14. Contoh lainnya seperti mengenai perputaran bumi, dan pergerakan benda langit lainnya, sungguh hal ini pula telah diungkapkan dalam Al-Quran tercantum pada Qs. Al-Fathir : 41.
Adapun dalam ilmu politiknya, Al-Quran menjelaskan tentang kekhalifahan yang baik dan bagaimana mengatur umatnya. Contoh pada masa kezaliman sistem fir’aun, otoriter, dan kefasikan yang merupakan buah politik yang sewenang-wenang, sehingga menyebabkan runtuhnya mayoritas umat.
Dan adapula dalam ilmu sosialnya, Al-Quran juga memelihara hukum-hukum kejiwaan dan hukum-hukum alam sekaligus menetapkan realitas-realitas yang harus dibina manusia untuk memakmurkan bumi. Seperti ilmu ekonomi, psikologi, sejarah, sosiologi, dan sebagainya.
Sungguh Allah swt telah mempersiapkan semuanya baik dalam ilmu pengetahuan alam, hukum-hukum kehidupan manusia, ilmu sosial, hingga ilmu kejiwaan, semuanya tercantum dalam Al-Quran. Maka wajib bagi kita untuk dapat berdialog dengan Al-Quran, jangan hanya mampu membacanya tanpa mengetahui makna yang terkandung di dalamnya. Hal ini yang diharapkan agar umat Islam dapat hidup makmur dan sejahtera di bumi ini, dengan bekal ilmu yang telah disiapkan oleh penciptanya Allah swt.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar