Metode-metode
Memahami Al-Qur’an
§ Metode Klasik
Kebanyakan kajian
sejarah perkembangan pemikiran Islam, berjalan secara dikotomis dan parsial.
Hal ini terlihat pada pendidikan dalam spesialisasi fiqih yang hanya terbatas
pada masalah-masalah fiqih ibadah saja, yang akhirnya terlibat dalam membentuk
pola pikir yang dikotomis dan hanya sedikit memberikan wawasan yang berarti.
Di sini terdapat pula
kajian yang lain, seperti kajian teologis yang dapat dikatakan kajian yang
cukup radikal dan menyentuh masalah-masalah hukum. Namun kajian ini hanya
sebatas pada penyimpulan, komentar, meringkas, mengutip, dan seterusnya, yang
sama saja seperti air yang berputar pada satu tempat yang sama.
Ada juga metode yang
disebut dengan metode sufistik yang mengkaji masalah-masalah di seputar
ketenangan jiwa, ketenangan hati, dan kadang juga membahas masalah akhlak dan
perilaku psikologis serta hubungan dengan Allah swt. Dan metode filosofis
dengan tokohnya yang terkenal seperti Al-Ghazali dan Ibn Rusyid. Mereka
merupakan filosof ternama dan sama-sama memberikan argumen dan visi terhadap
pemikiran Islam pada zamannya, yang memang pada waktu itu begitu besar perannya
dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam.
Beberapa metode yang
disebutkan tadi adalah sebuah tradisi keilmuan yang hampir lenyap. Maka untuk
mengembalikan kebudayaan Islam, kita harus mengkaji metode-metode tersebut
serta berusaha untuk merekonstruksinya menuju tradisi keilmuan yang berwawasan
dan berdasar pada Al-Quran dan Ash-Shunnah. Dan kita juga harus menemukan
kembali sistem pendidikan yang telah hilang, seperti sistem pendidikan yang
pernah diterapkan oleh Ibn Al-Haitsam, Jabbir bin Hayyan, dan Al-Khawarismi,
yang berpandangan paralel antara fenomena-fenomena alam dengan pernyataan-pernyataan
yang ada dalam Al-Quran.
§ Metode Modern
Ada beberapa kajian di
sini, diantaranya pendekatan atsariyyin atau biasa disebut dengan tafsir
bil-ma’tsur, yang terdapat pada kitab tafsir Ibnu Katsir. Metode ini pernah
digunakan oleh Ibnu Jarir Ath-Thabari, namun metode ini pernah mendapat kritik
karena ayat-ayat dalam kajian tersebut banyak dikaitkan dengan hadis-hadis
dhaif, sehingga apa yang diharapkan dari sebuah tafsir Al-Quran dengan
pemikiran Qurani, tampaknya belum begitu terlihat.
Ada juga tafsir yang
mengambil spesialisasi fiqhiyah yang membahas ayat-ayat hukum untuk
menyimpulkan metode-metode pengambilan hukum.
Dan ada pula tafsir yang bercorak dialogis, seperti yang pernah
dilakukan oleh Ar-Razi dalam tafsirnya At-Tafsir Al-Kabir. Tafsir ini menyajikan
tema-tema menarik, namun sebagian dari tema tersebut sudah keluar dari batasan
tafsir itu sendiri, yang menjadi acuan kebanyakan penafsir Al-Quran.
§ Pandangan Universal Al-Quran
Pada firman Allah swt :
$pkr'¯»t
â¨$¨Y9$#
(#rßç6ôã$#
ãNä3/u
Ï%©!$#
öNä3s)n=s{
tûïÏ%©!$#ur
`ÏB
öNä3Î=ö6s%
öNä3ª=yès9
tbqà)Gs?
ÇËÊÈ
21. “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan
orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”
Qs. Al-baqarah : 21
Inilah ayat tauhid. Dan kepada Allah-lah
segala urusan manusia dikembalikan. Ayat tersebut tidak hanya berhenti sampai
di situ, melainkan dilanjutkan dengan firman-Nya :
Ï%©!$#
@yèy_
ãNä3s9
uÚöF{$#
$V©ºtÏù
uä!$yJ¡¡9$#ur
[ä!$oYÎ/
tAtRr&ur
z`ÏB
Ïä!$yJ¡¡9$#
[ä!$tB
ylt÷zr'sù
¾ÏmÎ
z`ÏB
ÏNºtyJ¨V9$#
$]%øÍ
öNä3©9
(
xsù
(#qè=yèøgrB
¬!
#Y#yRr&
öNçFRr&ur
cqßJn=÷ès?
ÇËËÈ
22. “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan
langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia
menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena
itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, Padahal kamu
mengetahui.” Qs. Al-baqarah : 22
Perhatikan bagaimana
metode Al-Quran dalam membentangkan rahasia-rahasia alam dan pada saat yang
sama juga melarang kemusyrikan dan meletakkan dasar-dasar akidah tauhid.
Ayat-ayat tersebut diturunkan di kota Madinah, adapun dengan ayat-ayat yang
diturunkan di kota Makkah, kita dapati metode yang sama, seperti :
ª!$#
Ï%©!$#
@yèy_
ãNä3s9
@ø©9$#
(#qãZä3ó¡oKÏ9
ÏmÏù
u$yg¨Y9$#ur
#·ÅÁö6ãB
4
cÎ)
©!$#
rä%s!
@@ôÒsù
n?tã
Ĩ$¨Z9$#
£`Å3»s9ur
usYò2r&
Ĩ$¨Y9$#
w
crãä3ô±o
ÇÏÊÈ ãNà6Ï9ºs
ª!$#
öNä3/u
ß,Î=»yz
Èe@à2
&äóÓx«
Hw
tm»s9Î)
wÎ)
uqèd
(
4¯Tr'sù
tbqä3sù÷sè?
ÇÏËÈ Ï9ºxx.
à7sù÷sã
úïÏ%©!$#
(#qçR%x.
ÏM»t$t«Î/
«!$#
tbrßysøgs
ÇÏÌÈ
61. “Allah-lah yang menjadikan malam untuk kamu supaya kamu
beristirahat padanya; dan menjadikan siang terang benderang. Sesungguhnya Allah
benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan atas manusia, akan tetapi
kebanyakan manusia tidak bersyukur.”
62.
“yang demikian itu adalah Allah, Tuhanmu, Pencipta segala sesuatu, tiada Tuhan
(yang berhak disembah) melainkan dia; Maka Bagaimanakah kamu dapat dipalingkan?”
63.
“seperti Demikianlah dipalingkan orang-orang yang selalu mengingkari ayat-ayat Allah.”
Qs. Al-Mu’min : 61-63
Dari sini dapat
dipahami bahwa pernyataan-pernyataan Al-Quran al-Karim ialah tidak dikotomis
dan parsial, tetapi universal. Dari satu ayat dapat kita kaitkan dengan
masalah-masalah alam, balasan, jiwa manusia, keimanan, dan akhlak secara
sistematik.
§ Bagaimana Memahami Al-Quran ?
1. Meluruskan
Metode dan Sarana
Al-
Quran adalah penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Apa maksudnya Al-Quran
sebagai penyembuh bagi orang-orang yang beriman?
Ada orang yang membaca kitab Al-Bukhari agar
mendapat berkah dan kemenangan menjelang pertempuran. Salah seorang rekannya
berkomentar, ketika melihat tingkah laku orang tersebut, “Perlu diketahui hai
kawan, bahwa musuh itu menyerang kita dengan menggunakan kapal laut (al-bukhar)
bukan dengan kitab Al-Bukhari. Membaca kitab Al-Bukhari tanpa usaha memahami
hadis-hadis Nabi yang menjelaskan makna Al-Quran dan tanpa adanya usaha
berdialog dengan sunatullah, tentu tidak menjadikan sebuah kapal berlayar, dan
membacanya tanpa diimbangi usaha keras, tidak akan berarti sedikitpun.”
2. Mengidentifikasi
Kekeliruan
Pada firman Allah swt :
“ Allah-lah yang menundukan lautan
untukmu” Qs. Al-Jatsiyah : 18
Sebagian orang yang membaca ayat
tersebut hanya berpikiran bahwa Allah swt menghadirkan lautan untuk kita manfaatkan
isinya, namun tidak berpikir bagaimana menciptakan alat yang dapat digunakan
untuk mengarunginya. Hal ini yang membuat sebagian umat Islam tertinggal dalam
kemajuan teknologi.
3. Mengatasi
Keterbelakangan Umat
Tentang besi umpamanya,
pada ayat tersebut Allah swt hendak menginformasikan kepada umat Islam bahwa
Allah akan memberikan kemenangan. Namun yang dimaksud ialah apabila kita telah
dapat membudidayakan besi menjadi berbagai barang yang bermanfaat, seperti
zaman sekarang ini bahwa besi dapat diolah menjadi tank, artileri, senjata
modern lainnya, dan berbagai barang modern lainnya yang dapat menunjang
kemajuan pengetahuan manusia. Tetapi barang-barang seperti itu justru lebih
banyak dihasilkan oleh golongan orang di luar Islam, yang disebabkan buruknya
pemahaman umat Islam terhadap kandungan Al-Quran.
4. Mengambil
Hikmah Kisah-Kisah Al-Quran
Seperti pada
sepenggalan firman Allah swt : “Maka ambilah (kejadian itu) untuk
menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.”
Qs. Al-Hasyr : 2
Ayat tersebut diturunkan berkenaan
dengan kisah kaum Bani Nadhir. Al-Quran sendiri jelas-jelas memerintahkan
manusia untuk berjalan di muka bumi ini dengan membuka mata lebar-lebar, agar
dapat meluruskan kekeliruan pemikiran umat terdahulu.
§ Mukjizat Keilmuan dalam Al-Quran
Al-Quran adalah mukjizat yang kekal dan
sampai saat ini tidak seorangpun mampu menciptakan hal serupa.
Contoh keilmuannya, yaitu mengenai
tahapan penciptaan, proses pertumbuhan janin, dan sebagainya, yang diungkapkan
dalam Al-Quran dan kemudian dibuktikan oleh ilmu kedokteran, tercantum pada Qs.
Al-Mu’minun : 14. Contoh lainnya seperti mengenai perputaran bumi, dan
pergerakan benda langit lainnya, sungguh hal ini pula telah diungkapkan dalam
Al-Quran tercantum pada Qs. Al-Fathir : 41.
Adapun dalam ilmu politiknya, Al-Quran
menjelaskan tentang kekhalifahan yang baik dan bagaimana mengatur umatnya.
Contoh pada masa kezaliman sistem fir’aun, otoriter, dan kefasikan yang
merupakan buah politik yang sewenang-wenang, sehingga menyebabkan runtuhnya
mayoritas umat.
Dan adapula dalam ilmu sosialnya,
Al-Quran juga memelihara hukum-hukum kejiwaan dan hukum-hukum alam sekaligus
menetapkan realitas-realitas yang harus dibina manusia untuk memakmurkan bumi.
Seperti ilmu ekonomi, psikologi, sejarah, sosiologi, dan sebagainya.
Sungguh Allah swt telah mempersiapkan semuanya baik
dalam ilmu pengetahuan alam, hukum-hukum kehidupan manusia, ilmu sosial, hingga
ilmu kejiwaan, semuanya tercantum dalam Al-Quran. Maka wajib bagi kita untuk
dapat berdialog dengan Al-Quran, jangan hanya mampu membacanya tanpa mengetahui
makna yang terkandung di dalamnya. Hal ini yang diharapkan agar umat Islam
dapat hidup makmur dan sejahtera di bumi ini, dengan bekal ilmu yang telah
disiapkan oleh penciptanya Allah swt.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar